Sabtu, 06 April 2013

Pemerolehan Bahasa Anak


PEMEROLEHAN BAHASA ANAK
BAB I
Pendahuluan
1.1  Latar Belakang
Setiap anak belajar berkomunikasi dengan orang lain lewat berbagai cara. Meskipun cara anak yang satu dengan yang lain berbeda, ada hal-hal yang umum yang terjadi pada hampir setiap anak. Pengetahuan tentang konsep pemerolehan bahasa anak, perkembangan bahasa lisan dan tulis yang terjadi pada mereka, dan perbedaan individual dalam pemerolehan bahasa sangat penting bagi pelaksanaan pembelajaran bahasa anak, khususnya pada waktu mereka belajar membaca dan menulis permulaan. Sehingga Perkembangan bahasa atau komunikasi pada anak merupakan salah satu aspek dari tahapan perkembangan anak yang seharusnya tidak luput dari perhatian para pendidik pada umumnya dan orang tua pada khususnya. Itulah sebabnya calon guru sekolah dasar perlu menguasai berbagai konsep yang terkait dengan perkembangan dan pemerolehan bahasa anak.

1.2  Rumusan Masalah

1.      Bagaimana konsep pemerolehan bahasa anak?
2.      Bagaimana teori pemerolehan bahasa anak?
3.      Bagaimana tahap  pemerolehan bahasa anak?
4.      Apa faktor yang mempengaruhi pemerolehan bahasa anak?

1.3  Tujuan
1.     Mengetahui konsep pemerolehan bahasa anak.
2.      Mengetahui teori pemerolehan bahasa anak.
3.      Mengetahui tahap pemerolehan bahasa anak.
4.      Mengetahui fakto yeng mempengaruhi pemerolehan bahasa anak.


BAB II
Pembahasan
2.1 Konsep Pemerolehan Bahasa Anak
A. Pemahaman Istilah (Acquisition dan Learning, Nature dan Nurture, dan Competence dan Performance)
Wilkins (1974) dalam Ellis (1990:41) memberikan pengertian terhadap perbedaan istilah pemerolehan dan pembelajaran seperti berikut: “pemerolehan” merupakan proses penguasaan bahasa yang dilakukan oleh anak secara natural pada waktu dia belajar bahasa ibunya (native language/mother tongue) sedangkan “pembelajaran” adalah proses yang dilakukan (umumnya dewasa) dalam tatanan yang formal, yakni, belajar di kelas/di luar (indoor dan outdoor class) dan diajarkan oleh guru. Lebih rinci mengenai aspek perbedaan keduanya bisa dilihat pada Ellis (1990) dalam bukunya “Instructed Second Language Acquisition”. Namun demikian ada juga yang menggunakan istilah “pemerolehan bahasa kedua” (second language acquisition) seperti Krashen (1972), Nurhadi, dan lain-lain.
Disamping kedua istilah diatas, yang bisa menimbulkan salah pengertian kita terutama karena kemiripan pengucapannya adalah sifat pemerolehan yaitu nurture atau nature. Istilah tersebut memang lahir dari kedua tokoh yang berlainan aliran dan bidang kajian yang berbeda pula, dimana istilah nurture merupakan kesimpulan dari teori Behaviorisme yang mengatakan bahwa otak manusia dilahirkan seperti tabulrasa (blank slate/piring kosong) dimana blank slate ini akan diisi oleh alam sekitarnya. Pelopor moderen dalam pandangan ini adalah seorang psikolog dari Universitas Harvard yaitu, B.F. Skinner. Sedangkan istilah nature adalah lahir dari teori Innatisme yang dipelopori oleh Noam Chomsky (1960an) yang mengatakn bahwa manusia dilahirkan dengan Innate Properties (bekal kodrati) yaitu bersama Faculties of the Mind (kapling minda) yang salah satu bagiannya khusus untuk memperoleh bahasa, yaitu Language Acquisition Device (piranti pemerolehan bahasa). Karena alat ini berlaku semesta, maka kemudian Chomsky merumuskan teorinya dengan istilah Universal Grammar (tatabahasa semesta). Jadi perkembangan pemerolehan bahasa anak akan seiring dengan pertumbuhan faktor biologisnya (Ghazali: 2000 dan Dardjowidjojo: 2005).
Meskipun terjadi perbedaan sifat pemerolehan seperti disebutkan diatas, namun antara Nurture dan Nature sama-sama saling mendukung. Nature diperlukan, karena tanpa bekal kodrati makhluk tidak mungkin anak dapat berbahasa sedangkan nurture diperlukan, karena tanpa input dari alam sekitar bekal yang kodrati itu tidak akan terwujud (Dardjowidjojo, 2003:237).
Dari teori Universal Grammar Chomsky tersebut diatas muncul istilah competence dan performance. Chomsky (1960) mengatakan bahwa: “Competence: What we know - Our deep structure - What we are capable of doing while Performance: What we show - Our surface structure - What we do” (Elliot, 1996:7-9). Dalam pengertian lain bisa juga dikatakan bahwa yang disebut dengan kompetensi adalah proses penguasaan tata bahasa yang berlangsung secara tidak disadari, sedangkan performasi merupakan kemampuan memahami dan melahirkan atau menerbitkan kalimat-kalimat baru (Chaer, 2003:167). Sehingga ketika seseorang memiliki kompetensi berbahasa yang baik dan benar maka sudah bisa dipastikan orang tersebut akan sukses dalam performasinya (spoken&written language), kecuali orang tersebut mengalami language disorders seperti dyslexia dan aphasia.

2.2 Teori Pemerolehan Bahasa Anak
1. Teori Behaviorisme
Teori ini mulanya, terilhami oleh seorang filusuf Inggris yang hidup pada abad ke- 17 salah satu tokoh Empirisme yaitu John Lock yang kemudian dianut dan disebarluaskan oleh John B. Watson seorang tokoh terkemuka alisan Behaviorisme dalam Psikologi. Meskipun sebelumnya telah dijelaskan oleh seorang filusuf dan juga negarawan asal Inggris yang bernama Francis Bacon di awal abad ke-17 baru kemudia dimunculkan oleh Lock dan John B. Watson dalam berbagai tulisan mereka di jurnal-jurnal ilmiah (Encarta Encyclopedia:2006). Mereka mengklaim bahwa otak bayi waktu dilahirkan sama sekali seperti kertas kosong/piring kosong (tabularasa/blank slate), yang nanti akan diisi dengan pengalaman-pengalaman. Dengan kata lain bahwa semua pengetahuan dalam bahasa manusia yang tampak dalam perilaku berbahasa adalah merupakan hasil dari integrasi peristiwa-peristiwa linguistik yang diamati dan dialami manusia (Chaer, 2002:173).
Sejalan dengan anggapan diatas mereka (kaum behaviorisme) menganggap bahwa pengetahuan linguistik terdiri hanya dari rangkaian hubungan – hubungan yang dibentuk dengan cara pembelajaran “stimulus – respons”, dimana bahasa diasumsikan sebagai sekumpulan tabiat-tabiat atau perilaku-perilaku yang kemudian ditulis pada tabularasa otak anak.
Anggapan ini kemudian mendapat kritik dari para ahli lain terutama dari Chomsky pakar teori transformasi generative. Chomsky menganggap bahwa kaum behaviorisme tidak mampu menjelaskan proses pemerolehan bahasa itu sendiri. Kritik dari Chomsky ini mengundang reaksi dari pengikut kaum behaviorisme seperti Jenkin dengan teori mediasinya dengan mengatakan bahwa: “Learners receive linguistic input from speakers in their environment and they form associations between words and object or events”. Tetapi tetap saja apa yang mereka usahakan tidak mampu menjawab faktor kreatifitas dalam penggunaan bahasa serta bagaimana kompetensi bahasa digunakan untuk membuat dan memahami kalimat-kalimat baru yang belum pernah dibuatnya, begitu pula dengan pengikutnya yang lain seperti Bloomfield and Skinner yang mendasari pada hipotesis tabularasa dan teori stimulus-respons.

2. Teori Innetisme
Teori ini dipelopori oleh Noam Chomsky pada awal tahun 1960-an sebagai bantahan terhadap teori belajar bahasa yang dilontarkan oleh kaum behaviorisme tersebut. Noam Chomsky berkesimpulan bahwa teori behaviorisme tidak mampu menjelaskan proses pemerolehan bahasa dan kompetensi linguistiknya. Pemerolehan bahasa bukan didasarkan pada nurture (pemerolehan itu ditentukan oleh alam lingkungan) tetapi pada nature, artinya anak memperoleh bahasa seperti dia memperoleh kemampuan untuk berdiri dan berjalan. Anak tidak dilahirkan sebagai tabularasa, tetapi telah dibekali dengan Innate Properties (bekal kodrati) yaitu Faculties of the Mind (kapling minda) yang salah satu bagiannya khusus untk memperoleh bahasa, yaitu “Language Acquisition Device”, karena alat tersebut berlaku semesta maka kemudian Chomsky merumuskan teorinya dengan istilah Universal Grammar (tatabahasa semesta).
Lebih lanjut Chomsky mengatakan bahwa lingkungan hanya berfungsi sebagai pemberi masukan dan Language Acquisition Device itulah yang akan mengolah masukan (input) dan menentukan apa yang dikuasai lebih dahulu seperti bunyi, kata, frasa, kalimat, dan seterusnya (Clark&Clark, 1977). Dengan demikian, bahwa kemampuan yang dimiliki manusia telah terprogram secara biologis agar manusia dapat belajar bahasa. Kemudian kemampuan itu tumbuh dan berkembang sejalan dengan bertumbuhan biologis anak (otak, organ bicara, dll) yang pada akhirnya mampu mempelajari kaidah tata bahasa. Sehingga kalimat-kalima yang belum pernah didengar sebelumnya akan tetap mampu di ujarkan secara benar dan konsisten karena ada LAD/PPB tersebut.

3. Teori Kognitivisme
Berawal dari pernyataan Jean Piaget (1926) yang berunyi “logical thinking underlies both linguistic and nonlinguistic developments”, kemudian memancing para teoritis (1970-an) untuk kembali mengembangkan teori kognitif yang semula dikenal dalam ilmu psikologis, untuk menerangkan pertumbuhan kemampuan berbahasa yang mereka anggap belum memuaskan dari penjelasan Chomsky diatas. Mereka mengatakan bahwa anak lebih dahulu mengembangkan pengetahuan dunia secara umum (nonlinguistic knowledge), barulah ia kemudian menerapkan kemampuan bahasanya (linguistic knowledge). Dalam kaitannya dengan perkembangan kemampuan berbahasa, kaum kognitivisme mengatakan bahwa anak harus lebih dahulu memiliki kemampuan memetakan pikiran logis terhadap kategori dan hubungan yang ada dalam bahasa. Pemetaan tersebut terjadi melalui proses asosiasi (bagaimana proses asosiasi ini terjadi silakan lihat Chaer, 2002). Perbedaan dan kesamaanya dengan teori Chomsky yaitu:

INNATISME
KOGNITIVISME
Perbedaan
1
Kemampuan kognitif telah terprogram sebelum ia dilahirkan
Kemampuan kognitif itu tumbuh akibat anak berinteraksi dengan lingkungannya
2
Berbicara mengenai kemampuan belajar bahasa
Berbicara tentang kemampuan berpikir logis
3
Peran berpikir logis tidak penting
Peran berpikir logis sangat penting
4
Kemampuan belajar bahasa merupakan ciri unik yang hanya dimiliki manusia
Kemampuan berpikir logis merupakan ciri unik yang hanya dimiliki manusia
5
Perkembangan knowledge of language berkembang secara terpisah dari perkembangan berpikir logis
Aspek berpikir logis mestinya berkembang lebih dahulu sebelum anak mengembangkan bahasanya
Persamaan
1
Sama-sama memiliki pandangan tentang pertumbuhan kemampuan bahasa
2
Sama – sama berpendapat bahwa apa yang diperoleh anak adalah categories and rules of language
3
Sama – sama menyetujui bahwa kedua pengetahuan itu (categories and rules of language) terletak didalam otak pembelajar bahasa

2.3 Tahap Pemerolehan Bahasa Anak
1. Tahap Meraban (Pralinguistik) Pertama(0,0-0,5) Pada tahap meraban pertama,selama bulan-bulanawal kehidupan, bayi-bayi menangis, menjerit dantertawa.
2. Tahap Meraban Kedua (0,5-1,0) Tahap ini anak mulai aktif artinya tidak sepasifsewaktu ia berada pada tahap meraban pertama. Secarafisik ia sudah dapat melakukan gerakan-gerakan sepertimemegang dan mengangkat benda atau menunjuk.
 3. Tahap Linguistik Para ahli psikolinguistik membagi tahap inike dalam lima tahapan, yaitu:
1. Tahap I, tahap Holofrastik (Tahap Linguistik pertama, 1,0-2,0)
2. Tahap II, kalimat Dua Kata (2,0-3,0)
3. Tahap Linguistik III: Pengembangan Tata Bahasa (3,0-4,0)
4. Tahap Linguistik IV: Tata Bahasa Menjelang dewasa/Pradewasa (4,0-5,0)
5. Tahap Linguistik V : Kompetensi Penuh (5,0-)

2.4 Faktor – Faktor yang Mempengaruhi Pemerolehan Bahasa Anak
Faktor-faktor yang mempengaruhi pemerolehan bahasa anak:Ø
1. Faktor biologis
2. Faktor lingkungan sosial
3. Faktor intelegensi; dan
4. Faktor motivasi

Menurut Ellies dkk. (1989) mengemukakan bahwa anak belajar berbicara sesuai dengan kebutuhannya. Sekiranya ia dapat memperoleh apa yang diinginkannya tanpa bersusah payah untuk memintanya, maka ia tidak merasa perlu untuk berusaha belajar berbahasa. Jadi pada mulanya motif anak belajar bahasa ialah agar dapat memenuhi kebutuhan-kebutuhannya, keinginan-keinginannya, dan menguasai lingkungannya sesuai dengan keinginan dan kebutuhannya. Dengan demikian kebutuhan utama anak sehingga belajar berbahas yaitu:

a. Keinginan untuk memperoleh informasi tentang lingkungannya, kemudian mengenal dirinya sendiri dan kawan-kawannya;
b. Member perintah dan menyatakan kemauan;
c. Pergaulan social dengan orang lain; dan
d. Menyatakan pendapat dan ide-idenya.

BAB III
Penutup
3.1 Simpulan
Pemerolehan bahasa merupakan proses manusia mendapatkan kemampuan untuk menangkap, menghasilkan, dan menggunakan kata untuk pemahaman dan komunikasi.

 Faktor-faktor yang mempengaruhi pemerolehan bahasa anak:
Ø
1. Faktor biologis
2. Faktor lingkungan sosial
3. Faktor intelegensi; dan
4. Faktor motivasi

 Pengaruh pembelajaran pada Pemerolehan Bahasa Anak
Ø
1. Pengaruh pembelajaran pada urutan pemerolehan bahasa
2. Pengaruh pembelajaran pada proses pemerolehan bahasa
3. Pengaruh pembelajaran pada kecepatan pemerolehan bahasa

3.2 Saran
Pada pembelajaran pemerolehan anak sudah menjadi keharusan bagi orang tua, pendidik, dan lingkungan masyarakat untuk bekerja bersama-sama memberikan kontribusi secara aktif dan positif dalam membentuk kualitas anak yang cerdas baik secara intelektual, emosional, maupun spiritualnya.


Daftar Pustaka
Zuchdi, Darmiyati. 2001. Pendidikan Sastra dan Bahasa Indonesia kelas rendah. Yogyakarta:PAS
Tarigan, Henry Guntur. 1988. Pengajaran Pemerolehan Bahasa. Bandung: Angkasa
Faisal, Muhammad. 2009. Kajian Bahasa Indonesia SD. Jakarta. Departemen Pendidikan Nasional

Tidak ada komentar: